Retno Kusumastuti

Retno Kusumastuti: Maafkan Aku, Suamiku…

Jika suami saya, Chuck Suryosumpeno dianggap bagaikan “makhluk asing” yang memiliki warna berbeda diantara para Adhyaksa dan akhirnya berbuah kriminalisasi oleh Jaksa Agung serta para pimpinan Kejaksaan Agung lainnya serta dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, mungkin ini kesalahan saya.

Sejak menikah dengan Chuck, 28 tahun yang lalu, saya tak pernah bosan mencekokinya dengan berbagai pemahaman yang mungkin terdengar aneh, yaitu tanggung jawab melayani rakyat. Jika Anda bertanya dari mana saya dapatkan pemahaman itu, jawabnya adalah apa yang saya dengar dan lihat sejak kecil dari ibu dan kakek saya dari pihak ayah.

Almarhumah ibu saya, Andi Sungkowati, senantiasa bercerita betapa nenek beliau, Puang Ranu, seorang bangsawan kerajaan Bone yang kaya-raya secara rela menyerahkan seluruh hartanya pada suaminya tercinta, Andi Sultan Daeng Radja, Karaeng Gantarang (Regen Gantarang) yang juga seorang Jaksa pada Landraad Bulukumba, untuk berjuang. Andi Sultan Daeng Radja adalah seorang pejuang kemerdekaan. Tak hanya itu, saat suaminya ditahan Belanda, Puang Ranu juga rela mengayuh sampan sendirian membelah lautan di gelapnya malam dari Bulukumba ke tempat di mana suaminya ditahan hanya untuk mengantarkan sarapan pagi. Rutinitas ini dijalaninya bertahun-tahun hingga Andi Sultan Daeng Radja dibebaskan.

Kakek saya dari pihak ayah, Sri Paduka Pakualam VIII adalah guru kebangsaan pertama bagi saya yang mengajarkan mengenai tanggung jawab melayani rakyat, hal ini terjadi karena kebetulan saya tinggal di lingkungan Kadipaten Pakulaman. Hampir setiap hari beliau bercerita tentang bagaimana patriotisme sang Mahapatih Gadjah Mada, yang memiliki prinsip mengabdi pada bangsa dan negara tidak selalu harus menjadi raja. Prinsip tersebut secara nyata dijalankan oleh Sri Paduka Pakualam VIII dengan menyerahkan harta bendanya pada pemerintahan republik ini tanpa pamrih apapun. Bahkan beliau pernah tercetus ingin meninggal saat menjalankan tugas melayani rakyatnya.

Terus terang, saya tidak pernah menduga pemahaman tentang melayani rakyat yang menjadi prinsip hidup kami itu bagaikan palu godam yang menakutkan para pimpinan kejaksaan saat ini.

Sudah sejak lama, kehidupan saya mendapatkan tekanan dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, berbagai pesan pendek berupa ancaman pernah kami terima, antara lain meminta agar suami saya segera menceraikan saya, jika ingin naik pangkat atau pemberitaan pada berbagai media yang menyebutkan bahwa saya ikut campur tangan atas pekerjaan suami. Semuanya kami terima dengan ikhlas saja, the show must go on dan saya yakin mereka hanya orang-orang yang tidak tahu saja. Bagaimana saya sempat mencampuri pekerjaan suami, jika pekerjaan saya sebagai konsultan komunikasi sudah sangat menyita waktu dan pemikiran?

Saya dilahirkan dari keluarga yang sangat menjunjung tinggi pengabdian pada suami, beliau-lah imam saya di dunia, apapun yang diminta akan saya serahkan apalagi bila ada kaitannya dengan pengabdiannya pada rakyat. Maka tak jarang saat beliau mengeluhkan bahwa institusinya tidak memiliki biaya untuk suatu program yang diyakini sangat bermanfaat bagi bangsa ini, saya akan serahkan tabungan bahkan tak jarang harus menggadaikan atau menjual aset yang didapatkan dari hasil pekerjaan saya. Apakah hal ini harus saya umumkan kepada semua orang? Sungguh suatu tindakan yang sangat naif bila harus membicarakan hal ini, saya malu pada Almarhum Sri Paduka Pakualam VIII yang rela menyerahkan tanah kekuasaan serta seluruh harta bendanya kepada negeri ini. Pengabdian saya tentu tidak berarti apa-apa dibanding beliau.

Saat ini saya hanya bisa berharap, suami saya tidak patah semangat, melanjutkan pengabdian dengan menyumbangkan pemikirannya untuk bangsa dan negara.

Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak pernah tidur dan karma baik yang telah ditanam tak pernah berbuah keburukan. Semua yang kami alami hanyalah bagian dari proses pendewasaan diri, bukan menjadi penghalang untuk terus berkarya. Seperti kata pepatah “Life is not about waiting the storm to pass. It’s about learning to dance under the rain.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *