Jaksa Chuck Suryosumpeno

“Apa Sebenarnya Salahku?”

Sesugguhnya Chuck Suryosumpeno menaruh harapan yang sangat besar ketika M Prasetyo ditunjuk menjadi jaksa agung di penghujung 2014. Sekali-dua kali keduanya sempat bersua dan Chuck memaparkan rezim pemulihan aset lalu membahas program pemulihan aset mendatang.

Memang kala itu terjadi perbedaan pandangan. Namun sejauh itu, tidak ada masalah. Chuck beranggapan, perbedaan pandangan merupakan hal nan lazim mengingat rezim pemulihan aset merupakan hal baru di negeri ini dan tak banyak yang tahu manfaatnya.

Sebagai Kepala Pusat Pemulihan Aset (PPA) Kejaksaan Agung, Chuck tetap bekerja sebagaimana mestinya. Ketika mengakhiri masa kerja periode 2014, dia mengumpulkan sejumlah anak buahnya untuk melakukan evaluasi kerja tahun 2014 lalu membuat proyeksi dan program kerja 2015. Salah satu yang menonjol, PPA saat itu menargetkan dapat memulihkan aset hingga Rp 10 Triliun di akhir tahun 2015 dan beberapa di antaranya adalah kasus besar yang menarik perhatian masyarakat.

Menurut Chuck, dia dan anggotanya di PPA berani membuat target semacam itu lantaran sebelumnya telah melakukan tahapan pemulihan aset yang mendapat dukungan Basrief Arief, jaksa agung sebelum M Prasetyo.

Januari 2015, Chuck merilis kepada wartawan dari berbagai media tentang rencana pencapaian Rp 10 Triliun dari PPA di akhir tahun 2015. Sejumlah media memberitakannya. PPA kala itu berharap Jaksa Agung Prasetyo mendukung target Rp 10 Triliun itu, namun sebulan kemudian, pada Februari 2015, Chuck malah mendapatkan SK mutasi dari jabatan semula sebagai Kepala PPA menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku.

Chuck kaget! Semakian kaget ketika berhembus isu bahwa pimpinan dan sejumlah orang penting di lembaga kejaksaan sedang mencari-cari kesalahan Chuck dkk. Tidak habis Chuck berpikir dan bertanya-tanya, “Apa sebenarnya salahku (pada Jaksa Agung Prasetyo dan pimpinan lainnya?) Bukankah saya dan teman-teman sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara melalui Satgassus dan PPA?”

Lucunya, sejumlah pihak yang tidak paham, justru memberikan selamat pada Chuck. “Selamat Pak Kajati, Bapak dipromosikan jadi Kajati Maluku!” Ibunda Chuck di Semarang juga malah memberikan ucapan selamat kepada putra tercintanya itu, “Selamat ya, jadi Kajati Nak!”

Ponsel milik sang istri, Retno Kusumastuti juga dibanjiri SMS ucapan selamat, “Selamat ya ibu Kajati…” dan ada juga “Wah mantap Bu, Bapak sekarang jadi Kajati!” Setelah membaca dan mendengarkan itu, Retno hanya tersenyum karena ia sungguh tak peduli dengan jabatan suaminya, selama Chuck memberikan pengabdian terbaiknya pada Negara.

Sebenarnya Chuck tidak pernah mempersoalkan dirinya dimutasikan ke Maluku, menjadi kajati atau dimutasi ke mana pun. Yang menjadi soal adalah, Chuck belum setahun memimpin PPA dan sedang mempersiapkan SOP serta berbagai hal untuk kemajuan, termasuk kode etik praktisi pemulihan aset.

Ibarat kehidupan, mutasi Chuck ke Maluku bak seorang ibu yang tega meninggalkan (berpisah dari) bayi yang sedang dia susui. Diketahui pula ternyata Kepja mutasi ke Maluku menabrak aturan yang lebih tinggi, yakni, Perja (Peraturan Jaksa Agung) tentang PPA. Di dalam Perja disebutkan antara lain, Kepala PPA memimpin PPA sekurang-kurangnya dua tahun.

Kursus, sekolah, berbagai seminar dan workshop yang telah diikuti Chuck di berbagai negara terkait pemulihan, menjadi National Contact Person CARIN (Camden Asset Recovery Inter-agency Network), sebuah organisasi pemulihan aset tingkat dunia mewakili Indonesia, kemudian ikut mendirikan ARIN-AP (Asset Recovery Inter-agency Network for Asia Pasific Region) bahkan menjadi Presiden ARIN-AP di tahun 2013, juga seakan sia-sia.

Sejumlah rekan jaksa negara lain yang merupakan anggota CARIN dan ARIN AP menyayangkan kepindahan Chuck, pun termasuk mitra kerjanya di dalam negeri. Rekan-rekan KPK, kepolisian, termasuk dari lembaga kejaksaan itu sendiri, Kementerian Hukum dan HAM, mantan pejbat kejaksaan, anggota DPR (komisi III) hingga LSM, merasa prihatin dengan nasib yang dialami Chuck.

“Sakitnya tuh di sini….,”  kata Chuck dengan nada canda sembari menunjuk pada bagian dadanya. Tetapi untuk menghibur diri, Chuck sering menyanyikan lagi milik Josh Groban, “You Raise Me Up.”  “When I am down and, oh, my soul, so weary; When troubles come and my heart burdened be; Then I am still and wait here in the silence, Until you come and sit awhile with me. ………….You raise me up, so I can stand on mountains; You raise me up to walk on stormy seas; I am strong when I am on your shoulders; You raise me up to more than I can be……..”

Bahwa sesungguhnya, Chuck ingin menyandarkan segala-galanya pada sang Kuasa!

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *